KEMAS
ULANG INFORMASI INDEKS ARTIKEL PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL
Palentina
Togatorop 170709059
(Program
Studi Perpustakaan dan Sains Informasi,Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Sumatera Utara)
Email
:valentogatorop11@gmail.com
Abstrak
Kemas ulang informasi merupakan salah
satu kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan untuk mengantisipasi ledakan
informasi di perpustakaan. Kegiatan ini berupa penyaringan dan pengolahan
informasi sehingga menghasilkan bentuk informasi yang lebih ringkas, menarik
dan mudah dipahami oleh pengguna. Tahapan kegiatan ini dimulai dari menyeleksi
berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan,
menganalisis, mensintesis, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan
kebutuhan pengguna. Kemas ulang informasi dapat berupa pembuatan bibliografi,
sari karangan, majalah, pangkalan data, kumpulan abstrak, indeks artikel,
prosiding, direktori, pathfinder dan publikasi cetak lain yang dibutuhkan oleh
pengguna perpustakaan. Pengemas informasi perlu didukung oleh tenaga yang mempunyai
keahlian di bidangnya seperti bekerjasama dengan spesialis informasi
(infopreneur). Infopreneur adalah seseorang yang kreatif menggunakan data dan
informasi yang tersedia untuk menghasilkan informasi baru, mengelola, dan
menyebarluaskan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi penggunanya.
Mereka juga mempunyai visi dapat mengembangkan kandungan informasi secara
inventif dengan menggunakan media teknologi informasi (Kardi, 2009). Jadi dalam
melakukan kegiaan ini pustakawan disarankan untuk bekerjasama dengan
infopreneur sehingga kemas ulang informasi yang dihasilkan mencapai sasaran dan
sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pada perancangan kemas ulang informasi,
pustakawan harus mengenali terlebih dahulu karakter penggunanya, sehingga hasil
yang diperoleh sesuai dengan kebutuhannya. Adapun tantangan yang harus dihadapi
oleh pustakawan terkait dengan ledakan informasi ini adalah menguasai bidang
keilmuan, menguasai teknologi, membangun kemitraan, membangun kreativitas,
memperbaharui koleksi perpustakaan, baik yang cetak maupun digital terutama
pada layanan referensi.
I.
PENDAHULUAN
Perpustakaan Digital
Merupakan suatu lembaga penyedia
informasi yang menyediakan
sumber daya informasi
untuk seluruh Sivitas akademik
Perpustakaan terutama untuk memenuhi kebutuhan studi mahasiswa. Ketersediaan
informasi dapat membantu mahasiswa dan dosen dalam menemukan informasi yang
relevan dan sesuai kebutuhan informasi yang meraka butuhkan. Perpustakaan
Digital adalah perpustakaan pusat yang berperan sangat penting dalam memberikan
informasi yang dibutuhkan pengguna sehingga Perpustakaan Digital harus mampu
menampung ribuan sumberdaya informasi yang bertambah setiap
tahunnya. Pengelolahan sumber daya informasi tersebut tentunya
telah memunculkan berbagai
masalah, selain membutuhkan space ruangan
yang luas, pemeliharaan sumber
daya informasi ini
juga memerlukan tenaga dan biaya yang besar dan masalah yang serius
dihadapi yaitu terjadi ledakan informasi
pada perpustakaan dan membuat pihak perpustakaan menjadi bingung untuk memilih
informasi yang sangat dibutuhkan pengguna. Kecenderungan yang
banyak dilakukan oleh
perpustakaan dewasa ini khusunya Perpustakaan Perguruan Tinggi
adalah melakukan kemas ulang sumber daya informasi yang di milikinya kedalam
format atau bentuk yang lebih mudah digunakan oleh pengguna baik itu bersifat
ilmiah maupun yang non-ilmiah sehingga pengguna dapat menggunakan informasi.
Selain membantu pengguna menemukan informasi yang dibutuhkan dengan tepat
waktu, up to date, dan relavan, kemas ulang informasi sangat membantu
perpustakaan dalam menyeleksi bahan pustaka agar tidak terjadi ledakan informasi
yang dapat membuat pihak perpustakaan
menjadi bingung untuk
memilih informasi dibutuhkan pengguna. .
Ada pun produk yang
dikatakan dalam bentuk Kemas ulang informasi berupa perubahan bahasa satu ke
bahasa lain, misalnya terjemahan, interpretasi, dan bisa pula berupa perubahan
fungsi seperti revisi, ringkasan, analisis, risalah, bahkan anotasi. Jadi kemas
ulang informasi pada perpustakaan adalah bagaimana mengemas kembali informasi
atau mentranster dari satu bentuk ke bentuk lain dengan kemasan yang lebih
menarik. kemas ulang dilakukan untuk menyesuaikan informasi yang tersedia
dengan kebutuhan pengguna. Informasi yang ada di perpustakaan biasanya dalam
berbagai format dan subyek yang beraneka ragam, dengan tujuan dapat membantu dan
memudahkan pengguna untuk memanfaatkan informasi yang disajikan oleh
perpustakaan. Kemas ulang informasi merujuk pada penyajian informasi dalam
bentuk yang lebih dapat dimengerti, mudah dibaca, dan dikemas dalam bentuk yang
dapat diterima, dan dimanfaatkan dengan penyajianya yang efektif. serta untuk memperluas pemanfaatan
dan kemudahan akses terhadap sumberdaya informasi yang telah dikemas ulang oleh
perpustakaan agar dapat digunakan oleh
banyak pengguna dalam waktu
yang bersamaan (multi
user ) ,
dapat dimanfaatkan dengan akses
jarak jauh (remote access) tanpa harus datang keperpustakaan dan hanya
menggunakan website dari Perpustakaan. maka sumberdaya informasi yang
dimiliki harus selalu
diperbaharui agar tidak
terjadi masalah seperti
ledakan informasi, tidak adanya informasi yang relevan untuk pengguna.
Serta banyaknya tumpukan informasi yang membuat informasi menjadi usang dan
tidak up to date.
Produk kemas ulang
Bibliografi, Sari karangan, SDI ( Selected Disseminationof) dan CAS (Cureent
awareness services), CD,VDC,DVD, Multimedia, Abstrak, Indeks Artikel,
Prosiding, Publikasi cetak. Dengan produk kemas ulang yang dilakukan oleh
perpustakaan dapat mengatasi masalah yang dihadapi oleh Perpustakaan digital seperti
Ledakan Informasi, tidak adanya informasi yang relevan untuk pengguna. Serta
banyaknya tumpukan informasi yang membuat informasi menjadi usang dan tidak up
to date. Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti paparkan peneliti
tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai prosedur produk kemas ulang
informasi yang dilakukan oleh Perpustakaan digital oleh sebab itu, peneliti
menetapkan judul “Kemas Ulang Informasi Publikasi cetak pada Perpustakaan
digital.”
II.
TINJAUAN TEORI
A.
Pengertian Informasi
Informasi
adalah data yang telah diproses kedalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi
si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat itu dan
keputusan mendatang, Suwarno (2015, 42).
Menurut Habsyi
(2013:1), Di era
informasi ini data informasi
dan pengetahuan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia.
Informasi dan kemampuan kita untuk menemukan, memilih, mengevaluasi, memproses
dan menggunakannya sangat penting demi kelangsungan dan kesuksesan individu,
kelompok ataupun masyarakat. Ketika jumlah informasi lebih besar, maka
pengorganisasian informasi menjadi sangat penting sehingga informasi dapat
ditemukan kembali.
Menurut
George (2000:45), informasi adalah sebagai data yang terpenting untuk memberikan
pengetahuan yang bermanfaat.
Informasi yakni suatu
data yang sudah dikerucutkan menjadi sebuah bentuk yang sangat berarti
bagi si penerima informasi dan berguna dalam pengambilan keputusan. Raymond
Mcleod (2001:34),
Informasi
dapat berupa serangkaian simbol yang dimaknai sebagai pesan, direkam sebagai
tanda, atau dikirim layaknya sinyal. Sebagai konsep informasi merupakan pesan
(ucapan atau ungkapan ) yang disampaikan. (Pendit 2007, 32).
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Informasi berarti data yang bisa memberikan
makna dengan mengurangi ambiguitas, ketidakpastian, dan kesulitan interpretasi.
Informasi diibaratkan seperti air yang dalam kaidah bahasa termasuk ke dalam
benda yang tak bisa dihitung karena ukurannya bisa sangat kecil atau bisa juga
sangat besar dan informasi ialah sekumpulan fakta-fakta atau peristiwa yang
telah diolah menjadi sebuah bentuk data, dimana data tersebut dapat digunakan
oleh siapa saja untuk mengambil sebuah keputusan.
B.
Jenis- jenis Informasi
Ada
beragam jenis informasi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Tentunya hal
itu disesuaikan dengan sumber informasi, bentuk dan jenis informasi serta untuk
apa informasi tersebut dicari. Darmawan (2007) menjelaskan 6 ciri dari
informasi yang dapat memberikan makna bagi pengguna, diantaranya:
1. Kuantitas informasi
(amout of information),
dalam arti bahwa informasi yang diolah suatu prosedur
pengolahan informasi mampu memenuhi kebutuhan banyaknya informasi.
2. Kualitas informasi
(quality of information), dalam
arti bahwa informasi yang diolah
oleh system pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan kualitas dari
informasi tersebut.
3. Informasi
actual (recency of information), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh
sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi baru.
4. Informasi yang relevan atau sesuai (relevance
of information), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan
tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi.
5. Ketepatan
informasi (accuracy of information), dalam arti bahwa informasi yang diolah
oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi.
6. Kebenaran informasi (authenticity of
information), dalam arti bahwa informasi yang dikelola oleh sistem pengolahan
tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi yang benar.
Sedangkan
untuk jenis-jenis informasi Davis (2009) membaginya ke dalam 4 jenis yaitu:
1. Monitoring
information: yaitu jenis informasi yang berfungsi untuk mengkonfirmasi tindakan
yang diambil.
2. Problem
finding information: yaitu informasi
yang harus mewakili atau menjawab masalah yang ada.
3. Action information:
informasi yang menggambarkan
bahwa akan diambil sebuah
tindakan.
4. Decision
support: yaitu hasil dari tindakan yang telah diambil, akan dijadikan bahan
untuk mengambil keputusan.
Menurut Yusup (2002,
91), informasi yang sempat direkam dalam berbagai bentuk perekaman inilah yang
kelak bisa dikembangkan dalam kinerja kehidupan manusia. Informasi terekam ini
banyak dicari dan dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan kepentingannya. Terkait
dengan hal itu, ada pembagian jenis informasi lain yang terkait dengan
dokumentasi, seperti yang disebutkan oleh Pramanto (2004) dalam Wulandari, dkk
(2007), yaitu:
1.
Informasi yang terekam Informasi terekam
adalah informasi yang dapat direkam melalui berbagai alat atau media, antara
lain media grafis, media elektronik, dan media audiovisual, tak terkecuali
media cetak. Selanjutnya, jenis informasi ini disebut dokumen. Contohnya,
informasi tentang suatu artikel tentang suatu subjek tertentu dimasukkan dalam
jurnal ilmiah, kemudian disimpan dalam CD-ROM.
2.
Informasi tak terekam Informasi yang tak
terekam merupakan informasi yang belum atau tidak dapat
direkam karena situasi dan
kondisi serta nilai kepentingan yang dikandung informasi
itu. Misalnya, informasi informal mengenai kecelakaan kereta api atau pesawat.
Berdasarkan pendapat
yang telah dipaparkan diatas jenis informasi tidak hanya berpatok pada suatu
istilah , banyaknya kebutuhan informasi menyebabkan terbentuknya jenis
informasi terekam maupun non terekam yang dibutuhkan oleh penggun informasi
C.
Fungsi Informasi
Adanya informasi yang
diperlukan akan memberikan standar, aturan, ukuran, dan keputusan yang lebih
terarah untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan secara lebih
baik berdasar informasi yang diperoleh.
Menurut Raymond Mcleod
(2001:47), fungsi dari informasi adalah sebagai berikut :
1.
Menambah Pengetahuan Dengan adanya
informasi akan menambah pengetahuan bagi penerimanya sehinggadapat
menggunakannya untuk bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
2.
Mengurangi Ketidakpastian.
3.
Dengan informasi akan dapat diperkirakan
apa yang akan terjadi sehingga mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan
keputusan.
4.
Mengurangi Resiko Kegagalan Dengan adanya
informasi perkiraan tentang apa
yang akan terjadi akan membantu dalam langkah-langkah
antisipasi sehingga resiko kegagalan akan dapat dikurangi dengan pengambilan
keputusan yang tepat.
5.
Mengurangi Keanekaragaman/Variasi yang
Tidak Diperlukan.Dengan adanya informasi akan menyebabkan keanekaragaman
pendapat berkurang, sehingga proses pengambilan keputusan lebih terarah.
6.
Memberi
Standar, Aturan-aturan, Ukuran,
dan Keputusan yang Menentukan Pencapaian Sasaran dan
Tujuan.
Sedangkan menurut Pawit
(2009,345), menyatakan bahwa:
Informasi
berfungsi banyak dalam kehidupan manusia dari zaman kezaman bahkan informasi
semangkin dibutuhkan seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi
pentingnya informasi pada zaman teknologi seperti sekarang ini justru informasi
yang menduduki bagian amat penting untuk menentukan dalam berbagai aspek
kegitan masyarakat.
Berdasarkan
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi informasi tidak hanya sebatas
untuk pengetahuan tetapi sebagai data yang dapat memberikan hasil untuk
memberikan keputusan untuk mencapai suatu tujuan pengguna informasi tersebut.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemas
Ulang Informasi
Kemas ulang informasi
menurut Dongardive (2013:204) adalah proses untuk menyeleksi, menganalisis, dan
mengkosolidasikan informasi dalam bentuk yang lebih tepat sehingga dapat
digunakan oleh pengguna perpustakaan.
Menurut widyawan (2014, 24) menyatakan bahwa :
Kemas
ulang informasi merupakan kegitan mengemas kembali atau menstransfer dari satu
bentuk ke bentuk lain dalam kemasan yang lebih menarik untuk menfasilitasi
interaktivitas pengguna dalam menerapkan informasi, dan pelayanan ini dirancang untuk memenuhi
kebutuhan informasi spesifik.
Sedangkan Menurut
Fatmawati (2009:29) bahwa :
Kemas
ulang informasi merupakan kegiatan penataan ulang yang dimulai dari menyeleksi
berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan,
menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan
pengguna.
Berdasakan pendapat
diatas dapat disimpukan bahwa Mengemas kembali informasi adalah pengaturan
media fisik atau bentuk di mana
informasi telah ada dan disajikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Tujuan
pengemasan ulang adalah untuk meningkatkan penerimaan dan penggunaan produk
informasi, asimilasi dan penarikan kembali yang dilakukan media penerima
informasi tersebut. "Kemasan dan pengemasan ulang harus didukung dengan
kebutuhan untuk meningkatkan penggunaan potensial, pemahaman, asimilasi, dan
penarikan kembali dan kebutuhan untuk menyusun medium dan format di mana produk
konsolidasi informasi akan diberikan kepada pengguna. Kebijakan ini merupakan
Restrukturisasi penting dengan isi atau substansi informasi dengan bentuk
presentasinya. Pengemasan informasi dilakukan dengan bantuan berbagai macam
media yaitu media cetak, media audiovisual, media elektronik, dan kontak
sosial.ada tiga persyaratan untuk melakukan kemas ulang informasi, yaitu: 1)
bahan-bahan harus terkumpul dan terorganisir secaraefisien; 2) lembaga memiliki
petugas yang memiliki
kapasitas untuk menganalisis
konten informasidan membuat
paket informasi baru; 3) produk baru harus disebarluaskan secara bebas.
Keharusan
Kemas Ulang Informasi
Keharusan kemas ulang
informasi harus dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan bagi penyedia
informasi menurut pawit (2009, 376) yaitu:
1.
Perpustakaan harus
mampu mempunyai persedian
informasi dan sumber-sumber
informasi yang multitujuan, memadai dan bervariasi, baik dalam isi, format
maupun ukuranya.
2.
Perpustakaan harus mengorganisasikan dan
menawarkan pelayannya dengan konsep layanan terhantar (tidak hanya menunggu
pengguna datang ke perpustakaan).
3.
Seperti halnya pedangan perpustakaan harus
mengembangkan sayap dengan cara memperbanyak jumlah pengguna sebagai komoditas.
Kemas ulang informasi
berperan penting dalam peningkatan mutu layanan informasi perpustakaan. Hal
tersebut dapat dilihat dari fungsi, tujuan, dan manfaat kemas ulang informasi
pada lembaga tersebut. Dongardive (2013, 205) menjelaskan fungsi kemas ulang
informasi sebagai:
1.
Alat untuk menyimpan informasi.
2.
Penyortir sistematis dan selektif
informasi yang berguna.
3.
Sarana untuk lebih transmisi informasi
yang luas dan pengiriman.
4.
Alat terjemahan.
5.
Peluang untuk menyimpan hasil penelitian
secara praktis.
6.
Sarana transfer promosi hasil publikasi
yang relevan.
Kemas ulang informasi
memang menjadi kegiatan atau kebijakan yang penting dalam mengelolah
informasi agar tidak
terjadi ledakan informasi.
Fatmawati (2009 : 30) mengatakan fungsi kegiatan kemas ulang informasi,
yaitu :
1. Memudahkan
pengguna dalam memilih informasi.
2. Menghemat
waktu, tenaga, dan biaya.
3. Sarana
penyebaran efektif dan efisien.
4. Alat penerjemah terhadap suatu hal dengan
cepat.
5. Mempercepat
proses aplikasi hasil penelitian.
6. Serta
menyediakan informasi secara cepat dalam memenuhi kebutuhan pengguna
Tujuan dilakukan kemas
ulang tentu untuk memudahkan berbagi sumber- sumber informasi yang tak lain
juga menuju kepada lembaga penyedia informasi
dan sasarannya tentu adalah pengguna dan lembaga penyedia tersebut
dengan tujuan menambah sumber informasi, memperluas aksebilitas sumber-sumber
informasi, mengurangi biaya dan meningkatkan penyerapan sumber-sumber
informasi.
Surachman
(2009), mengatakan bahwa pengemasan informasi memberikan manfaat dan nilai
ekonomi bagi badan usaha penyedia informasi dan perpustakaan, seperti:
1. Perpustakaan
mampu menyediakan kemasan-kemasan informasi yang siap pakai yang dapat
dijualkepada masyarakat/pengguna dengan segmentasi yang telah ditentukan.
2. Perpustakaan dapat menekan biaya (cost) bagi
perawatan dan pengelolaan informasi serta mengoptimalkan pemanfaatan informasi
yang sesuai kebutuhan pengguna.
3. Memudahkan
pengguna dalam mendapatkan kemasan informasi yang siap pakai, cepat, tepat,
hemat waktu, dan hemat biaya.
4. Memberikan
peluang komoditas dan peningkatan pendapatan ekonomi bagi perpustakaan karena
pengemasan ulang informasi
berpotensi sebagai bidang usaha
informasi di perpustakaan yangakan mampu menghasilkan pemasukan.
Fatmawati (2009,30)
mengatakan tujuan tentang kemas ulang informasi yaitu:
1.
Memudahkan memperoleh informasi.
2.
Mempercepat penelusuran dan penemuan
kembali.
3.
Informasi.
4.
Mengevaluasi dan memberikan penafsiran
seberapa jauh tingkat pemanfaatannya.
5.
Memberikan kepuasan kepada pengguna.
6.
Menghemat ruang dan rak penyimpanan
koleksi, tercetak.
7.
Memudahkan penelusuran informasi.
8.
Mudah
dibawa, ditransfer, dan
di-sharingdalam jejaring perpustakaan lain dan transfer
pengetahuan/pengalaman antar-pustakawan.
Kemas ulang informasi
tidak bisa dianggap remeh oleh para
penyedia layanan informasi seperti perpustakaan
tentu kebijakan ini
lah dapat membuat perpustakaan menjadi hidup dan
berjalan
Produk
Kemas Ulang Informasi
Produk kemas
ulang informasi merupakan
hasil dari pengemasan
ulang informasi.Menurut Widyawan (2014, 12-13) bahwa :
Informasi
tersedia dalam berbagai bentuk, tidak hanya tercetak pada kertas seperti buku,
jurnal, majalah atau Koran saja akan tetapi biasa juga dalam bentuk mikro,
seperti microfilm dan microfiche. Informasi juga tersedia dalam bentuk
elektronik yang disebarluaskan melalui internet.
Tassel and Lisa (2010,
224-225), menjelaskan bahwa:
konten
informasi, seperti lagu, skenario buku, video, kertas putih, merupakan material
awal yang perlu dikemas ulang agar menarik. Konten informasi tersebut perlu
dikemas lebih kreatif agar menjadi suatu produk informasi yang berfungsi
sebagai properti. Jika produk kreatif tersebut akan dikomersialkan, produk
tersebut dikemas ulang yang lebih menarik.
Selanjutnya berbagai
macam sumber informasi
di perpustakaan dapat dikemas dengan beragam bentuk menurut
Widyawan (2014, 55), antara lain:
1.
Bibliografi, biasanya diterbitkan oleh
perpustakaan atau badan penerbit dengan tujuan untuk disebarkan kepada
perpustakaan lain sebagai bahan rujukan bagi pencari informasi baik secara
tercetak atau terekam. Jenis bibliografi ada dua macam yakni bibliografi umum
dan khusus.
2.
Sari karangan, biasanya memuat
keterangan seperti latar belakang,tujuan, sasaran, metode, kesimpulan dan saran
yang terdapat pada dokumen aslinya.
Jenis sari karangan
yang dibuat bisa
sari karangan indikatif maupun sari karangan informatif.
3.
Jasa penyebaran informasi ilmiah
mutakhir, meliputi SDI (Selected Dissemination of Information/terseleksi) dan
CAS (Current Awareness Services/terbaru)
berupa lembar informasi
maupun paket informasi. Melalui layanan ini diharapkan
pengguna selalu memperoleh informasi mutakhir secara teratur dan terus menerus
sesuai dengan bidang minat dan spesialisasinya. Informasi tersebut kemudian
dikemas menjadi majalah kesiagaan informasi.
4.
Media pandang dengar (audio visual)
Kemasan informasi ini berbentuk gambar dan suara sehingga lebih menarik. Media
pandang dengar umumnya dapat berupa profil perpustakaan, program pendidikan
pemakai, serta media promosi jasa layanan perpustakaan. Misalnya: CD interaktif,
VCV, DVD, audio-video cassete.
5.
Multimedia. Sasaran pengguna pada bentuk
pengemasan multimedia ini umumnya
adalah kelompok. Misalnya
pada saat ada
pameran perpustakaan, pengunjung disuguhkan beragam informasi mengenai
jasa layanan perpustakaan serta petunjuk cara mengaksesnya.
6.
Kumpulan abstrak, diawali dengan
menelusur, menscan data bibliografis dan abstraknya berdasarkan bidang ilmu
yang berasal dari sumber informasi ilmiah Selanjutnya kumpulan abstrak tersebut
dikemas dalam bentuk majalah abstrak.
7.
Indeks artikel, terdiri dari indeks artikel
jurnal dan indeks artikel majalah. Kumpulan indeks artikel tersebut kemudian
bisa dijadikan majalah indeks.
8.
Prosiding, kumpulan makalah yang
dihimpun dari hasil seminar, diskusi panel,
lokakarya, sarasehan, workshop,
simposium, semiloka, maupun temu ilmiah lainnya.
9.
Publikasi cetak lainnya. Sebagai media
promosi dan penyebaran informasi untuk memperkenalkan jasa perpustakaan yang
dapat diberikan kepada pengguna.
Dongardive (2013:
205-208) menjelaskan ada beberapa jenis produk hasil kemas ulanginformasi,
yaitu:
1.
Current awareness services ( CAS ),
2.
Selective Dissemination of
Information(SDI).
3.
Analisis dan Konsolidasi Informasi.
4.
Abstrak.
5.
Terjemahan dokumen.
6.
Direktori. Newsletters.
7.
Kumpulan Materi.
8.
Kompilasi dan Pengolahan Data.
9.
Bahan Publisitas dan Pengumuman
Peristiwa Terkini dan Aktivitas Program.
Berdasarkan uraian
penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa produk kemas ulang informasi adalah
produk yang sangat dibutuhkan perpustakan untuk menunjang keberhasilan
perpustakaan seperti kumpulan karya karya ilmiah dan terjemahan dokumen.
Proses
Kemas Ulang Informasi
Maryati dan
Yoganingrum (2015) menjelaskan
proses kemas ulang informasi sebagai berikut. Menentukan
konten: menganalisis kebutuhan pengguna, memperhatikan permintaan pengguna,dan
menentukan informasi yang tersedia.
1.
Mengumpulkan bahan informasi: menelusur
informasi dan bekerja sama dengan stakeholders.
2.
Menganalisis konten:
mengelompokkan informasi dan menyusun
informasi.
3.
Mengubah bentuk informasi: memilih jenis
kemasan dan mengemas informasi.
4.
Mengevaluasi efektivitas dari proses dan
bentuk kemasan informasi.
Dongardive (2013,205)
menjelaskan beberapa metode dalam pengemasanan ulang informasi yang dirancang
untuk memperoleh informasi spesifik dan sesuai target pengguna. Beberapa metode
kemas ulang informasi dijelaskan sebagai berikut.
a) Persiapan
informasi singkat (preparation of the first brief), yakni menyiapkan informasi ringkas dari berbagai informasi
terseleksi yang disiapkan oleh ahli informasi.
b) Analisis
singkat (analysis of the brief) yakni menganalisis sumber-sumber referensi
secarasingkat terhadap target pengguna,
isi informasi, anggaran kemasan, serta siklus hidup darikemasan informasi.
Produk hasil kemas ulang informasi harus memberikan deskripsi topikinformasi
secara jelas agar dapat dikomunikasikan kepada pengguna.
c) Kriteria desain
pembawa pesan (design
criteria for the
message carrier), yakni kemasan informasi harus didesain semenarik
mungkin agar diminati pembaca. Pemilihan
pembawa pesan (selection
of the message carrieryakni kemasan
informasi harus dirancang
dalam berbagai bentuk (format) dan ukuran yang variatif.
d) Produksi
pembawa pesan (production of the message carrier) yakni kemasan informasi harus
dirancang dengan baik sebelum diproduksi lebih banyak.
e) Perencanaan sistem umpan balik (feedback
system planning), yakni perlu perencanaan yang matang dalam menanggapi umpan
balik atau penilaian dari pengguna terhadap keberhasilan hasil kemas ulang
informasi.
Uraian pendapat diatas
bahwa Proses kemas ulang informasi merupakan kegiatan untuk mengubah bentuk
fisik dari cetak ke non cetak atau mengubah suatu koleksi dari 1 bahasa ke
bahasa yang lain. Agar lebih mudah dipahami dan diakses oleh para pemustaka.
Jenis
Kemas Ulang Informasi
Pelayanan kemas ulang
informasi dapat digolongkan ke dalam tiga jenis. Penggolongan berbeda
menurut rangkaian kesatuan
oleh tingkat nilai
tambah terhadap sumber informasi orisinal. Pada satu sisi, rangkaian itu
adalah lokasi dan sarana akses. sedangkan disisi lain adalah dokumen-dokumen
yang dikemas ulang dan pelayanan-pelayanan yang disesuaikan untuk memberi
kemudahan dalam memenuhi kebutuhan pemustaka.
Widyawan (2014, 75)
meyatakan bahwa Diskusi
penggolongan dan kaitannya adalah sebagai berikut :
1.
Lokasional dan Sarana Akses
Beberapa pelayanan
kemas ulang memerlukan
rancangan dan penetapan panduan
yang memberikan kemudahan identifikasi dan penelusuran dokumen primer yang
diminati pemustaka. Pemustaka yang menelusur tentang seuatu masalah perlu
memindai literature secara luas ke
penjabaran masalah mereka yang
lebih baik. Pustakawan yang mendukung
pencarian dan pengumpulan informasi perlu membuat panduan untuk membantu
pemustaka. Contoh panduan adalah pathfinders, daftar sumber, bibliografis,
indeks, abstrak, dan database pesanan.
2.
Sumber Representasional dengan sarana
akses dan lokasional yang mengidentifikasikan dan membantu dalam seleksi dan
tempat sumber, sarana
representasional merumuskan kembali
dokumen primer ke dalam dokumen sekunder dan tertier.
Dokumen primer digabung dan disajikan ulang ke dalam berbagai bentuk baru.
Penggabungan dan penciptaan kembali didasarkan analisi isi dokumen primer dan
sintesa mereka diberikan kepada pemustaka potensial. Contohnya adalah
terjemahan, ulasan, laporan state of the art, buku panduan dan manual.
3.
Sumber Penafsiran dan Evaluasi Ini
merupakan dokumen yang dipesan atau pelayanan untuk membantu pemustaka dalam
memenuhi kebutuhan informasi yang ditafsirkan dalam konteks, sudut pandang, dan
tujuan pemustaka.
Kemas
Ulang Informasi Indeks Artikel
Produk
atau bentuk kemas ulang yang ada pada Perpustakaan digital sangat membantu
pustakawan dan pengguna dalam menemukan
informasi untuk pustakawan produk kemas ulang informasi sangat dibutuhkan agar
pustakawan mampu memberikan informasi yang baik untuk pengguna dan produk kemas
ulang sendiri mampu memenuhi kebutuhan informasinya. Kondisi seperti ini sering
dihadapi oleh berbagai perpustakaan baik perpustakaan khusus, perpustakaan riset, atau perpustakaan akademis
(perpustakaan fakultas). Dalam dunia kepustakawanan, pekerjaan kemas ulang
informasi merupakan kegiatan penting yang hampir ada di setiap Perpustakaan.
Pustakawan mengemas ulang informasi guna menyesuaikan kebutuhan informasi bagi pengguna.
Informasi disesuaikan dengan subjek yang
spesifik harus terkumpul dan dikemas menjadi suatu bentuk baru yang lebih menarik,
tentu saja pustakawan memberikan
sumber-sumber informasi yang digunakannya dalam produk kemas ulang
informasi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempermudah pemustaka mencari sumber
yang digunakan agar
informasi tersebut relevan
dengan kebutuhan pengguna. Kemas ulang dilakukan agar dapat menyesuaikan
informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Sebab informasi yang ada di
perpustakaan biasanya dalam berbagai format dan subyek yang beraneka ragam.
Indeks
Artikel
Pengertian Indeks
adalah istilah atau daftar kata yang penting dalam suatu buku yang tersusun
berdasarkan abjad dimana istilah atau kata ini memiliki informasi mengenai
halaman itu ditemukan. Atau dengan kata lain, indeks adalah suatu daftar kata
atau bisa berupa frase dimana kata tersebut terkait dengan petunjuk pada bahan
yang ditemukan didalam dokumen. Indeks berasal dari kata latin yang berarti
menunjukkan tempat (indicare). Oleh karena itu, indeks ini memiliki fungsi yang
penting dalam suatu buku karena bisa menunjukkan nomor halaman istilah yang
kita cari disuatu buku.
Ciri-ciri
indeks
Jenis lain dari indeks
berdasarkan Pengertian Indeks adalah Indeks nama tempat dan organisasi. Tidak
hanya nama diri ataupun istilah pada buku, jenis indeks juga bisa berupa
organisasi. Adanya indeks bertujuan agar pembaca mudah mendapatkan informasi
yang sedang dibaca dan memahami informasi yang lebih luas dan rinci saat
membaca buku tertentu. Bagi anda yang masih bingung dengan indeks, indeks
memiliki ciri-ciri seperti kata atau istilah yang disusun secara alphabet,
biasanya halaman indeks tidak mencantumkan makna kata akan tetapi hanya
menunjukkan letak atau halaman istilah yang ada pada buku, Jadi indeks bukanlah
kamus kecil yang ada dibagian belakang buku.
Pembagian
Jenis Indeks
Pada buku, Pengertian
Indeks juga bisa dibedakan menjadi dua yaitu indeks subjek dan indeks
pengarang. Indeks subjek bisa dikatakan sama dengan indeks istilah dimana
didalamnya hanya mencantumkan istilah-istilah sedangkan indeks pengarang
pengertiannya sama dengan indeks nama yang isinya tentang daftar nama pengarang
atau tokoh dalam buku.
1. Indeks Nama
“Pengarang” Merupakan susunan atau kumpulan nama-nama orang dalam sebuah
indeks.
2. Indeks Topik
“Subjek/Istilah” Merupakan kumpulan istilah atau subjek yang disusun
berdasarkan abjad dimana istilah tersebut berada dalam buku atau bersangkutan
dengan isi buku tersebut. Dalam sebuah buku geografi, indeks topik biasanya
ialah istilah yang ada kaitannya dengan ilmu geografi.
3. Perincian Indeks
Topik Merupakan subjek atau istilah yang ada kaitannya dengan subjek yang ada
dalam sebuh indeks topik.
4. Nomor Halaman
Merupakan bagian indeks buku yang bertuliskan nomor-nomor halaman dimana sebuah
menunjukkan letak istilah tersebut.
Mengumpulkan Bahan
Informasi Untuk melakukan kemas ulang informasi pada bahan pustaka seperti
indeks artikel hal yang
pertama kita lakukan
adalah mengumpulkan bahan
pustaka semua bahan yang ingin di kemas harus terkumpul terlebih dahulu agar memudahkan
proses selanjutnya. mengumpulkan bahan-bahan untuk pengemasan bahan pustaka
abstrak sama dengan mengumpulkan bahan pustaka bibiografi. Berikut pernyataan
yang diberikan oleh informan I¹ sebagai berikut: ” Semuanya sama
jadi bahan pustaka harus kita kumpulakan terlebih dahulu agar kita bisa
melakukan kemas ulang. Informan Juga memberikan keterangan sebagai berikut: sama dengan bahan pustaka yang lain. Sebelum
melakukan pengemasan bahan pustaka harus
kita kumpulkan terlebi dahalu. Penjelasan yang diberikan oleh tidak jauh
berbeda dengan informan. Intinya
setiap bahan pustaka
yang ingin kita
kemas kita harus mengumpulkan bahan pustaka tersebut.
Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa untuk melakukan kemas ulang
informasi pada bahan pustaka pada bahan pustaka yang ada pada Perpustakaan
digital hal yang pertama dilakukan adalah :
a)
mengumpulkan bahan yang ingin dikemas.
b)
Menentukan Topik Menentukan topik
artinya mengindetifikasi kebutuhan informasi yang dibutuhkan pengguna dimana
bahan pustaka yang sudah terkumpul kita pilah- pilah sesuai dengan topik yang
dibutuhkan pengguna, Bila kebutuhan informasi pengguna telah diidentifikasi
dengan baik maka pengemasan informasi akan tepat sasaran. Sesuai dengan
kebijakan dalam menetapkan topik didasarkan pada beberapa hal yaitu pernyataan
informan sebagai berikut: kita tentukan topik terlebih dahulu agar informasi
yang ingin dikemas ulang tepat sasaran jadi kita tahu informasi seperti apa
yang diinginkan pengguna. penjelasan yang diberikan: . Menentukan topik pada
indeks dilakukan agar informasi yang dibutuhkan dan yang sudah terkumpul mudah
ditelusur dan mudah untuk disatukan kembali. Sama dengan
c)
Menentukan Ruang Lingkup
Menentukan
ruang lingkup dengan kata kunci untuk digunakan saat penelusuran. Agar tidak
terjadi perluasan istilah setelah menentukan topik. Dalam kata kunci mengandung
istilah yang memiliki arti perluasan tentang pembahasan yang akan dikaji
Istilah-istilah tersebut dapat dilihat pada Ensiklopedi suatu ilmu atau
Thesaurus dan lain sebagainya. Selain itu dengan membaca sumber informasi yang
berkenaan dengan topik yang dicari, membuat seseorang lebih familiar dan lebih
mendalam pengetahuannya dengan topik tersebut.
Dampak
Ekonomis Dari Kemas Ulang Informasi Indeks Artikel
Beberapa dampak
ekonomis dari kegiatan kemas ulang informasi di antaranya adalah:
1.
Perpustakaan mampu menyediakan
kemasan-kemasan informasi yang siap pakai yang dapat dijual kepada masyarakat/
pengguna dengan segmentasi yang telah ditentukan.
2.
Banjir informasi yang terus menerus
apabila tidak ditangani oleh perpustakaan akan membawa dampak pada pembengkakan
cost perawatan dan pengelolaan, sehingga apabila dibandingkan dengan biaya yang
dihasilkan dari pemanfaatan informasi akan sangat tidak signifikan. Dengan pengemasan informasi maka perpustakaan
dapat menekan biaya (cost) bagi perawatan dan pengelolaan, sekaligus dapat
memanfaatkan hasilnya sebagai bentuk layanan “penjualan informasi” di
perpustakaan kepada pengguna yang membutuhkan.
3.
Bagi pengguna, adanya kemasan informasi
ini akan memotong biaya dan juga waktu yang dibutuhkan oleh pengguna dalam
mencari, memilih, dan memperoleh informasi yang dibutuhkannya. Hal ini
dikarenakan pengguna dengan mudah mendapatkan kemasan informasi yang siap pakai
dan disediakan oleh perpustakaan secara mudah, cepat, tepat dan hemat waktu.
Misalnya, untuk mendapatkan informasi tertentu di perpustakaan, pengguna cukup
mengakses database perpustakaan melalui internet yang menyediakan berbagai
koleksi digital hasil kemas informasi di berbagai bidang.
4.
Pengemasan informasi ini merupakan
peluang komoditas bagi perpustakaan yang berpotensi sebagai bidang usaha
informasi di perpustakaan yang akan mampu menghasilkan pemasukan. Hal ini
tentunya akan membantu melepaskan image perpustakaan sebagai “cost institution”
menjadi “benefit institution”. Artinya perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai
lembaga yang hanya “menyedot” biaya dan punya ketergantungan terhadap biaya,
menjadi perpustakaan yang mampu memberikan keuntungan dan membiayai kegiatannnya
sendiri.
Contoh Indeks Artikel

Daftar indeks Artikel yang
dilayankan



IV.
KESIMPULAN
Kemas
ulang informasi merupakan kegiatan jasa informasi yang dimulai dari menyeleksi
berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan,
menganalisis, mensintesis, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan
kebutuhan pengguna sehingga akan memberikan kemudahan dalam penyebaran dan temu
kembali informasi. Kegiatan pengemasan informasi ini menghasilkan produk yang
mengikuti perkembangan zaman karena kemasan dibuat dengan sengaja untuk
mengatasi ledakan informasi khususnya di perpustakaan. Terkait dengan hal di
atas, pustakawan memegang peran penting dalam keberhasilan kegiatan kemas ulang
informasi.
Untuk
menunjang keberhasilan tersebut, pustakawan harus mampu menjalin kerjasama
dengan pihak-pihak lain yang terkait seperti kepala perpustakaan maupun
infopreneur. Produk yang dihasilkan dari kegiatan ini akan memberi dampak
kepada pengguna tergantung dari kreatifitas perencana, penyusun serta
penyebaran/ promosinya. Keuntungan yang diperoleh dengan produk yang dihasilkan
adalah “trade mark” dari produsennya atau penghasil kemasan maupun dari
pengguna. Jika kedua hal tersebut berhasil, otomatis perpustakaan akan tetap
eksis dan diminati oleh penggunanya.
DAFTAR REFERENSI
Kardi. (2009).
Knowledge Management dan Kemas Ulang Informasi di Perpustakaan Perguruan Tinggi
(Hambatan dan Peluang Perpustakaan Masa Depan). Pustakaloka, 13-24.
Anonim. 2012.
Pengemasan Informasi : Sebuah usaha mendekatkan Sumber Informasi Pada Pengguna
Perpustakaan. Surakarta: UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret.
Fitri
Rahmawaati.2013,Pengemasan dan pelabelan.UPT Perpustakaan Universitas negeri
Yogyakarta. Tersedia di : http://staffnew.uny.ac.id/upload/132296048/pengabdian/pengemasan-dan-pelabelan.pdf
Prakash Dongardive.2013.Information
Repackaging In Library services.Dapartment of Information Science,CNCS,Mekelle
University,Ethiopia.
Manfaat
informasi-Pengertian, Fungsi,Jenis,Ciri dan contohnya Tersedia di : https://www.dosenpendidikan.co.id/manfaat-informasi/
Stephen Adeyemi
Bello.Information needs Repackaging Dissemination : Sustainable Library
services for national development.2019. Tersedia di https://ijalbs.com/index.php/ijalbs/article/view/56
Pengertian indeks :
Jenis, Ciri dan Pembagian. Tersedia di https://rocketmanajemen.com/definisi-indeks/
Layanan Penyusunan
Indeks artikel Majalah Ilmiah tersedia di : https://library.unila.ac.id/web/layanan-perpustakaan/layanan-penyusunan-indeks-artikel-majalah-ilmiah/
Pembuatan indeks Kata
Kunci Artikel Jurnal ilmiah di pdii-lipi(Pusat Dokumtasi dan informasi Ilmiah
Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia) Tersedia di : https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/29064/Pembuatan-Indeks-Kata-Kunci-Artikel-Jurnal-Ilmiah-Di-Pdii-Lipi-Pusat-Dokumentasi-Dan-Informasi-Ilmiah-Lembaga-Ilmu-Pengetahuan-Indonesia
Indeks Artikel Majalah
Tersedia di : https://anariyana00.blogspot.com/2013/06/indeks-dan-abstrak.html