Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Halaman

Senin, 06 April 2020

KEMAS ULANG INFORMASI INDEKS ARTIKEL PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL


KEMAS ULANG INFORMASI INDEKS ARTIKEL PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL

Palentina Togatorop 170709059
(Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi,Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara)
Email :valentogatorop11@gmail.com

Abstrak
Kemas ulang informasi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan untuk mengantisipasi ledakan informasi di perpustakaan. Kegiatan ini berupa penyaringan dan pengolahan informasi sehingga menghasilkan bentuk informasi yang lebih ringkas, menarik dan mudah dipahami oleh pengguna. Tahapan kegiatan ini dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesis, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kemas ulang informasi dapat berupa pembuatan bibliografi, sari karangan, majalah, pangkalan data, kumpulan abstrak, indeks artikel, prosiding, direktori, pathfinder dan publikasi cetak lain yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. Pengemas informasi perlu didukung oleh tenaga yang mempunyai keahlian di bidangnya seperti bekerjasama dengan spesialis informasi (infopreneur). Infopreneur adalah seseorang yang kreatif menggunakan data dan informasi yang tersedia untuk menghasilkan informasi baru, mengelola, dan menyebarluaskan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi penggunanya. Mereka juga mempunyai visi dapat mengembangkan kandungan informasi secara inventif dengan menggunakan media teknologi informasi (Kardi, 2009). Jadi dalam melakukan kegiaan ini pustakawan disarankan untuk bekerjasama dengan infopreneur sehingga kemas ulang informasi yang dihasilkan mencapai sasaran dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pada perancangan kemas ulang informasi, pustakawan harus mengenali terlebih dahulu karakter penggunanya, sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan kebutuhannya. Adapun tantangan yang harus dihadapi oleh pustakawan terkait dengan ledakan informasi ini adalah menguasai bidang keilmuan, menguasai teknologi, membangun kemitraan, membangun kreativitas, memperbaharui koleksi perpustakaan, baik yang cetak maupun digital terutama pada layanan referensi.


I. PENDAHULUAN
Perpustakaan Digital Merupakan suatu lembaga penyedia  informasi  yang  menyediakan  sumber  daya  informasi  untuk  seluruh Sivitas akademik Perpustakaan terutama untuk memenuhi kebutuhan studi mahasiswa. Ketersediaan informasi dapat membantu mahasiswa dan dosen dalam menemukan informasi yang relevan dan sesuai kebutuhan informasi yang meraka butuhkan. Perpustakaan Digital adalah perpustakaan pusat yang berperan sangat penting dalam memberikan informasi yang dibutuhkan pengguna sehingga Perpustakaan Digital harus   mampu   menampung   ribuan   sumberdaya informasi yang bertambah setiap tahunnya. Pengelolahan sumber daya informasi tersebut  tentunya  telah  memunculkan  berbagai  masalah,  selain  membutuhkan space   ruangan   yang   luas,   pemeliharaan   sumber   daya   informasi   ini   juga memerlukan tenaga dan biaya yang besar dan masalah yang serius dihadapi  yaitu terjadi ledakan informasi pada perpustakaan dan membuat pihak perpustakaan menjadi bingung untuk memilih informasi yang sangat dibutuhkan pengguna. Kecenderungan   yang   banyak   dilakukan   oleh   perpustakaan   dewasa   ini khusunya Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah melakukan kemas ulang sumber daya informasi yang di milikinya kedalam format atau bentuk yang lebih mudah digunakan oleh pengguna baik itu bersifat ilmiah maupun yang non-ilmiah sehingga pengguna dapat menggunakan informasi. Selain membantu pengguna menemukan informasi yang dibutuhkan dengan tepat waktu, up to date, dan relavan, kemas ulang informasi sangat membantu perpustakaan dalam menyeleksi bahan pustaka agar tidak terjadi ledakan informasi yang dapat membuat pihak perpustakaan    menjadi    bingung    untuk    memilih    informasi    dibutuhkan pengguna. .
Ada pun produk yang dikatakan dalam bentuk Kemas ulang informasi berupa perubahan bahasa satu ke bahasa lain, misalnya terjemahan, interpretasi, dan bisa pula berupa perubahan fungsi seperti revisi, ringkasan, analisis, risalah, bahkan anotasi. Jadi kemas ulang informasi pada perpustakaan adalah bagaimana mengemas kembali informasi atau mentranster dari satu bentuk ke bentuk lain dengan kemasan yang lebih menarik. kemas ulang dilakukan untuk menyesuaikan informasi yang tersedia dengan kebutuhan pengguna. Informasi yang ada di perpustakaan biasanya dalam berbagai format dan subyek yang beraneka ragam, dengan tujuan dapat membantu dan memudahkan pengguna untuk memanfaatkan informasi yang disajikan oleh perpustakaan. Kemas ulang informasi merujuk pada penyajian informasi dalam bentuk yang lebih dapat dimengerti, mudah dibaca, dan dikemas dalam bentuk yang dapat diterima, dan dimanfaatkan dengan penyajianya yang   efektif. serta untuk memperluas pemanfaatan dan kemudahan akses terhadap sumberdaya informasi yang telah dikemas ulang oleh perpustakaan agar dapat digunakan  oleh banyak pengguna  dalam  waktu  yang  bersamaan    (multi  user  )  ,  dapat  dimanfaatkan dengan akses jarak jauh (remote access) tanpa harus datang keperpustakaan dan hanya menggunakan website dari Perpustakaan. maka sumberdaya informasi yang dimiliki  harus  selalu  diperbaharui  agar  tidak  terjadi  masalah  seperti  ledakan informasi, tidak adanya informasi yang relevan untuk pengguna. Serta banyaknya tumpukan informasi yang membuat informasi menjadi usang dan tidak up to date.
Produk kemas ulang Bibliografi, Sari karangan, SDI ( Selected Disseminationof) dan CAS (Cureent awareness services), CD,VDC,DVD, Multimedia, Abstrak, Indeks Artikel, Prosiding, Publikasi cetak. Dengan produk kemas ulang yang dilakukan oleh perpustakaan dapat mengatasi masalah yang dihadapi oleh Perpustakaan digital seperti Ledakan Informasi, tidak adanya informasi yang relevan untuk pengguna. Serta banyaknya tumpukan informasi yang membuat informasi menjadi usang dan tidak up to date. Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti paparkan peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai prosedur produk kemas ulang informasi yang dilakukan oleh Perpustakaan digital oleh sebab itu, peneliti menetapkan judul “Kemas Ulang Informasi Publikasi cetak pada Perpustakaan digital.”

II. TINJAUAN TEORI
A. Pengertian  Informasi
Informasi adalah data yang telah diproses kedalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat itu dan keputusan mendatang, Suwarno (2015, 42).
Menurut   Habsyi   (2013:1),   Di   era   informasi   ini   data   informasi   dan pengetahuan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Informasi dan kemampuan kita untuk menemukan, memilih, mengevaluasi, memproses dan menggunakannya sangat penting demi kelangsungan dan kesuksesan individu, kelompok ataupun masyarakat. Ketika jumlah informasi lebih besar, maka pengorganisasian informasi menjadi sangat penting sehingga informasi dapat ditemukan kembali.
Menurut George (2000:45), informasi adalah sebagai data yang terpenting untuk  memberikan  pengetahuan  yang  bermanfaat.  Informasi  yakni  suatu  data yang sudah dikerucutkan menjadi sebuah bentuk yang sangat berarti bagi si penerima informasi dan berguna dalam pengambilan keputusan. Raymond Mcleod (2001:34), ­
Informasi dapat berupa serangkaian simbol yang dimaknai sebagai pesan, direkam sebagai tanda, atau dikirim layaknya sinyal. Sebagai konsep informasi merupakan pesan (ucapan atau ungkapan ) yang disampaikan. (Pendit 2007, 32).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Informasi berarti data yang bisa memberikan makna dengan mengurangi ambiguitas, ketidakpastian, dan kesulitan interpretasi. Informasi diibaratkan seperti air yang dalam kaidah bahasa termasuk ke dalam benda yang tak bisa dihitung karena ukurannya bisa sangat kecil atau bisa juga sangat besar dan informasi ialah sekumpulan fakta-fakta atau peristiwa yang telah diolah menjadi sebuah bentuk data, dimana data tersebut dapat digunakan oleh siapa saja untuk mengambil sebuah keputusan.

B. Jenis- jenis Informasi
Ada beragam jenis informasi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Tentunya hal itu disesuaikan dengan sumber informasi, bentuk dan jenis informasi serta untuk apa informasi tersebut dicari. Darmawan (2007) menjelaskan 6 ciri dari informasi yang dapat memberikan makna bagi pengguna, diantaranya:
1.      Kuantitas  informasi  (amout  of  information),  dalam  arti  bahwa informasi yang diolah suatu prosedur pengolahan informasi mampu memenuhi kebutuhan banyaknya informasi.
2.      Kualitas   informasi   (quality   of   information),   dalam   arti   bahwa informasi yang diolah oleh system pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan kualitas dari informasi tersebut.
3.      Informasi actual (recency of information), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi baru.
4.       Informasi yang relevan atau sesuai (relevance of information), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi.
5.      Ketepatan informasi (accuracy of information), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi.
6.       Kebenaran informasi (authenticity of information), dalam arti bahwa informasi yang dikelola oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi yang benar.
Sedangkan untuk jenis-jenis informasi Davis (2009) membaginya ke dalam 4 jenis yaitu:
1.      Monitoring information: yaitu jenis informasi yang berfungsi untuk mengkonfirmasi tindakan yang diambil.
2.      Problem finding information: yaitu informasi  yang harus mewakili atau menjawab masalah yang ada.
3.      Action  information:  informasi  yang  menggambarkan  bahwa  akan diambil sebuah tindakan.
4.      Decision support: yaitu hasil dari tindakan yang telah diambil, akan dijadikan bahan untuk mengambil keputusan.
Menurut Yusup (2002, 91), informasi yang sempat direkam dalam berbagai bentuk perekaman inilah yang kelak bisa dikembangkan dalam kinerja kehidupan manusia. Informasi terekam ini banyak dicari dan dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan kepentingannya. Terkait dengan hal itu, ada pembagian jenis informasi lain yang terkait dengan dokumentasi, seperti yang disebutkan oleh Pramanto (2004) dalam Wulandari, dkk (2007), yaitu:
1.      Informasi yang terekam Informasi terekam adalah informasi yang dapat direkam melalui berbagai alat atau media, antara lain media grafis, media elektronik, dan media audiovisual, tak terkecuali media cetak. Selanjutnya, jenis informasi ini disebut dokumen. Contohnya, informasi tentang suatu artikel tentang suatu subjek tertentu dimasukkan dalam jurnal ilmiah, kemudian disimpan dalam CD-ROM.
2.       Informasi tak terekam Informasi yang tak terekam merupakan informasi yang belum atau tidak  dapat  direkam  karena  situasi dan  kondisi  serta  nilai kepentingan yang dikandung informasi itu. Misalnya, informasi informal mengenai kecelakaan kereta api atau pesawat.
Berdasarkan pendapat yang telah dipaparkan diatas jenis informasi tidak hanya berpatok pada suatu istilah , banyaknya kebutuhan informasi menyebabkan terbentuknya jenis informasi terekam maupun non terekam yang dibutuhkan  oleh penggun informasi
C. Fungsi Informasi
Adanya informasi yang diperlukan akan memberikan standar, aturan, ukuran, dan keputusan yang lebih terarah untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan secara lebih baik berdasar informasi yang diperoleh.
Menurut Raymond Mcleod (2001:47), fungsi dari informasi adalah sebagai berikut :
1.      Menambah Pengetahuan Dengan adanya informasi akan menambah pengetahuan bagi penerimanya sehinggadapat menggunakannya untuk bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
2.      Mengurangi Ketidakpastian.
3.      Dengan informasi akan dapat diperkirakan apa yang akan terjadi sehingga mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
4.      Mengurangi Resiko Kegagalan Dengan  adanya  informasi  perkiraan  tentang apa  yang  akan  terjadi akan membantu dalam langkah-langkah antisipasi sehingga resiko kegagalan akan dapat dikurangi dengan pengambilan keputusan yang tepat.
5.      Mengurangi Keanekaragaman/Variasi yang Tidak Diperlukan.Dengan adanya informasi akan menyebabkan keanekaragaman pendapat berkurang, sehingga proses pengambilan keputusan lebih terarah.
6.      Memberi   Standar,   Aturan-aturan,   Ukuran,   dan   Keputusan   yang Menentukan Pencapaian Sasaran dan Tujuan.
Sedangkan menurut Pawit (2009,345), menyatakan bahwa:
Informasi berfungsi banyak dalam kehidupan manusia dari zaman kezaman bahkan informasi semangkin dibutuhkan seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi pentingnya informasi pada zaman teknologi seperti sekarang ini justru informasi yang menduduki bagian amat penting untuk menentukan dalam berbagai aspek kegitan masyarakat.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi informasi tidak hanya sebatas untuk pengetahuan tetapi sebagai data yang dapat memberikan hasil untuk memberikan keputusan untuk mencapai suatu tujuan pengguna informasi tersebut.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemas Ulang Informasi
Kemas ulang informasi menurut Dongardive (2013:204) adalah proses untuk menyeleksi, menganalisis, dan mengkosolidasikan informasi dalam bentuk yang lebih tepat sehingga dapat digunakan oleh pengguna perpustakaan.
Menurut widyawan  (2014, 24) menyatakan bahwa :
Kemas ulang informasi merupakan kegitan mengemas kembali atau menstransfer dari satu bentuk ke bentuk lain dalam kemasan yang lebih menarik untuk menfasilitasi interaktivitas pengguna dalam menerapkan informasi, dan  pelayanan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi spesifik.
Sedangkan Menurut Fatmawati (2009:29) bahwa :
Kemas ulang informasi merupakan kegiatan penataan ulang yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Berdasakan pendapat diatas dapat disimpukan bahwa Mengemas kembali informasi adalah pengaturan media fisik  atau bentuk di mana informasi telah ada dan disajikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Tujuan pengemasan ulang adalah untuk meningkatkan penerimaan dan penggunaan produk informasi, asimilasi dan penarikan kembali yang dilakukan media penerima informasi tersebut. "Kemasan dan pengemasan ulang harus didukung dengan kebutuhan untuk meningkatkan penggunaan potensial, pemahaman, asimilasi, dan penarikan kembali dan kebutuhan untuk menyusun medium dan format di mana produk konsolidasi informasi akan diberikan kepada pengguna. Kebijakan ini merupakan Restrukturisasi penting dengan isi atau substansi informasi dengan bentuk presentasinya. Pengemasan informasi dilakukan dengan bantuan berbagai macam media yaitu media cetak, media audiovisual, media elektronik, dan kontak sosial.ada tiga persyaratan untuk melakukan kemas ulang informasi, yaitu: 1) bahan-bahan harus terkumpul dan terorganisir secaraefisien; 2) lembaga memiliki petugas   yang   memiliki   kapasitas  untuk   menganalisis  konten   informasidan membuat paket informasi baru; 3) produk baru harus disebarluaskan secara bebas.


Keharusan Kemas Ulang Informasi
Keharusan kemas ulang informasi harus dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan bagi penyedia informasi menurut pawit (2009, 376) yaitu:
1.      Perpustakaan   harus   mampu   mempunyai   persedian   informasi   dan sumber-sumber informasi yang multitujuan, memadai dan bervariasi, baik dalam isi, format maupun ukuranya.
2.      Perpustakaan harus mengorganisasikan dan menawarkan pelayannya dengan konsep layanan terhantar (tidak hanya menunggu pengguna datang ke perpustakaan).
3.       Seperti halnya pedangan perpustakaan harus mengembangkan sayap dengan cara memperbanyak jumlah pengguna sebagai komoditas.
Kemas ulang informasi berperan penting dalam peningkatan mutu layanan informasi perpustakaan. Hal tersebut dapat dilihat dari fungsi, tujuan, dan manfaat kemas ulang informasi pada lembaga tersebut. Dongardive (2013, 205) menjelaskan fungsi kemas ulang informasi sebagai:
1.      Alat untuk menyimpan informasi.
2.      Penyortir sistematis dan selektif informasi yang berguna.
3.      Sarana untuk lebih transmisi informasi yang luas dan pengiriman.
4.      Alat terjemahan.
5.      Peluang untuk menyimpan hasil penelitian secara praktis.
6.      Sarana transfer promosi hasil publikasi yang relevan.
Kemas ulang informasi memang menjadi kegiatan atau kebijakan yang penting dalam  mengelolah  informasi  agar  tidak  terjadi  ledakan  informasi.  Fatmawati (2009 : 30) mengatakan fungsi kegiatan kemas ulang informasi, yaitu :
1.      Memudahkan pengguna dalam memilih informasi.
2.      Menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
3.      Sarana penyebaran efektif dan efisien.
4.       Alat penerjemah terhadap suatu hal dengan cepat.
5.      Mempercepat proses aplikasi hasil penelitian.
6.      Serta menyediakan informasi secara cepat dalam memenuhi kebutuhan pengguna
Tujuan dilakukan kemas ulang tentu untuk memudahkan berbagi sumber- sumber informasi yang tak lain juga menuju kepada lembaga penyedia informasi  dan sasarannya tentu adalah pengguna dan lembaga penyedia tersebut dengan tujuan menambah sumber informasi, memperluas aksebilitas sumber-sumber informasi, mengurangi biaya dan meningkatkan penyerapan sumber-sumber informasi.
            Surachman (2009), mengatakan bahwa pengemasan informasi memberikan manfaat dan nilai ekonomi bagi badan usaha  penyedia  informasi dan perpustakaan, seperti:
1.      Perpustakaan mampu menyediakan kemasan-kemasan informasi yang siap pakai yang dapat dijualkepada masyarakat/pengguna dengan segmentasi yang telah ditentukan.
2.       Perpustakaan dapat menekan biaya (cost) bagi perawatan dan pengelolaan informasi serta mengoptimalkan pemanfaatan informasi yang sesuai kebutuhan pengguna.
3.      Memudahkan pengguna dalam mendapatkan kemasan informasi yang siap pakai, cepat, tepat, hemat waktu, dan hemat biaya.
4.      Memberikan peluang komoditas dan peningkatan pendapatan ekonomi bagi perpustakaan  karena  pengemasan  ulang  informasi  berpotensi  sebagai bidang usaha informasi di perpustakaan yangakan mampu menghasilkan pemasukan.

Fatmawati (2009,30) mengatakan tujuan tentang kemas ulang informasi yaitu:
1.      Memudahkan memperoleh informasi.
2.      Mempercepat penelusuran dan penemuan kembali.
3.      Informasi.
4.      Mengevaluasi dan memberikan penafsiran seberapa jauh tingkat pemanfaatannya.
5.        Memberikan kepuasan kepada pengguna.
6.      Menghemat ruang dan rak penyimpanan koleksi, tercetak.
7.      Memudahkan penelusuran informasi.
8.      Mudah  dibawa,  ditransfer,  dan  di-sharingdalam  jejaring  perpustakaan lain dan transfer pengetahuan/pengalaman antar-pustakawan.
Kemas ulang informasi tidak bisa dianggap remeh  oleh para penyedia layanan informasi  seperti  perpustakaan  tentu  kebijakan  ini  lah  dapat  membuat perpustakaan menjadi hidup dan berjalan
Produk Kemas Ulang Informasi
Produk  kemas  ulang  informasi  merupakan  hasil  dari  pengemasan  ulang informasi.Menurut Widyawan (2014, 12-13) bahwa :
Informasi tersedia dalam berbagai bentuk, tidak hanya tercetak pada kertas seperti buku, jurnal, majalah atau Koran saja akan tetapi biasa juga dalam bentuk mikro, seperti microfilm dan microfiche. Informasi juga tersedia dalam bentuk elektronik yang disebarluaskan melalui internet.

Tassel and Lisa (2010, 224-225), menjelaskan bahwa:
konten informasi, seperti lagu, skenario buku, video, kertas putih, merupakan material awal yang perlu dikemas ulang agar menarik. Konten informasi tersebut perlu dikemas lebih kreatif agar menjadi suatu produk informasi yang berfungsi sebagai properti. Jika produk kreatif tersebut akan dikomersialkan, produk tersebut dikemas ulang yang lebih menarik.
Selanjutnya  berbagai  macam  sumber  informasi  di  perpustakaan  dapat dikemas dengan beragam bentuk menurut Widyawan (2014, 55), antara lain:
1.      Bibliografi, biasanya diterbitkan oleh perpustakaan atau badan penerbit dengan tujuan untuk disebarkan kepada perpustakaan lain sebagai bahan rujukan bagi pencari informasi baik secara tercetak atau terekam. Jenis bibliografi ada dua macam yakni bibliografi umum dan khusus.
2.      Sari karangan, biasanya memuat keterangan seperti latar belakang,tujuan, sasaran, metode, kesimpulan dan saran yang terdapat pada dokumen aslinya.  Jenis  sari  karangan  yang  dibuat  bisa  sari  karangan  indikatif maupun sari karangan informatif.
3.      Jasa penyebaran informasi ilmiah mutakhir, meliputi SDI (Selected Dissemination of Information/terseleksi) dan CAS (Current Awareness Services/terbaru)   berupa  lembar   informasi   maupun   paket  informasi. Melalui layanan ini diharapkan pengguna selalu memperoleh informasi mutakhir secara teratur dan terus menerus sesuai dengan bidang minat dan spesialisasinya. Informasi tersebut kemudian dikemas menjadi majalah kesiagaan informasi.
4.      Media pandang dengar (audio visual) Kemasan informasi ini berbentuk gambar dan suara sehingga lebih menarik. Media pandang dengar umumnya dapat berupa profil perpustakaan, program pendidikan pemakai, serta media promosi jasa layanan perpustakaan. Misalnya: CD interaktif, VCV, DVD, audio-video cassete.
5.       Multimedia. Sasaran pengguna pada bentuk pengemasan multimedia ini umumnya    adalah    kelompok.    Misalnya    pada    saat    ada    pameran perpustakaan, pengunjung disuguhkan beragam informasi mengenai jasa layanan perpustakaan serta petunjuk cara mengaksesnya.
6.      Kumpulan abstrak, diawali dengan menelusur, menscan data bibliografis dan abstraknya berdasarkan bidang ilmu yang berasal dari sumber informasi ilmiah Selanjutnya kumpulan abstrak tersebut dikemas dalam bentuk majalah abstrak.
7.       Indeks artikel, terdiri dari indeks artikel jurnal dan indeks artikel majalah. Kumpulan indeks artikel tersebut kemudian bisa dijadikan majalah indeks.
8.      Prosiding, kumpulan makalah yang dihimpun dari hasil seminar, diskusi panel,  lokakarya,  sarasehan,  workshop,  simposium,  semiloka,  maupun temu ilmiah lainnya.
9.      Publikasi cetak lainnya. Sebagai media promosi dan penyebaran informasi untuk memperkenalkan jasa perpustakaan yang dapat diberikan kepada pengguna.
Dongardive (2013: 205-208) menjelaskan ada beberapa jenis produk hasil kemas ulanginformasi, yaitu:
1.      Current awareness services ( CAS ),
2.      Selective Dissemination of Information(SDI).
3.      Analisis dan Konsolidasi Informasi.
4.      Abstrak.
5.      Terjemahan dokumen.
6.      Direktori. Newsletters.
7.      Kumpulan Materi.
8.      Kompilasi dan Pengolahan Data.
9.      Bahan Publisitas dan Pengumuman Peristiwa Terkini dan Aktivitas Program.
Berdasarkan uraian penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa produk kemas ulang informasi adalah produk yang sangat dibutuhkan perpustakan untuk menunjang keberhasilan perpustakaan seperti kumpulan karya karya ilmiah dan terjemahan dokumen.
Proses Kemas Ulang Informasi
Maryati  dan  Yoganingrum  (2015)  menjelaskan  proses  kemas  ulang informasi sebagai berikut. Menentukan konten: menganalisis kebutuhan pengguna, memperhatikan permintaan pengguna,dan menentukan informasi yang tersedia.
1.      Mengumpulkan bahan informasi: menelusur informasi dan bekerja sama dengan stakeholders.
2.      Menganalisis  konten:  mengelompokkan  informasi  dan  menyusun informasi.
3.      Mengubah bentuk informasi: memilih jenis kemasan dan mengemas informasi.
4.      Mengevaluasi efektivitas dari proses dan bentuk kemasan informasi.
Dongardive (2013,205) menjelaskan beberapa metode dalam pengemasanan ulang informasi yang dirancang untuk memperoleh informasi spesifik dan sesuai target pengguna. Beberapa metode kemas ulang informasi dijelaskan sebagai berikut.
a)      Persiapan informasi singkat (preparation of the first brief), yakni menyiapkan  informasi ringkas dari berbagai informasi terseleksi yang disiapkan oleh ahli informasi.
b)      Analisis singkat (analysis of the brief) yakni menganalisis sumber-sumber referensi secarasingkat terhadap target  pengguna, isi informasi, anggaran kemasan, serta siklus hidup darikemasan informasi. Produk hasil kemas ulang informasi harus memberikan deskripsi topikinformasi secara jelas agar dapat dikomunikasikan kepada pengguna.
c)      Kriteria   desain   pembawa   pesan   (design   criteria   for   the   message carrier),   yakni   kemasan informasi harus didesain semenarik mungkin agar diminati pembaca. Pemilihan  pembawa  pesan  (selection  of  the message     carrieryakni     kemasan     informasi  harus  dirancang  dalam berbagai bentuk (format) dan ukuran yang variatif.
d)     Produksi pembawa pesan (production of the message carrier) yakni kemasan informasi harus dirancang dengan baik sebelum diproduksi lebih banyak.
e)        Perencanaan sistem umpan balik (feedback system planning), yakni perlu perencanaan yang matang dalam menanggapi umpan balik atau penilaian dari pengguna terhadap keberhasilan hasil kemas ulang informasi.
Uraian pendapat diatas bahwa Proses kemas ulang informasi merupakan kegiatan untuk mengubah bentuk fisik dari cetak ke non cetak atau mengubah suatu koleksi dari 1 bahasa ke bahasa yang lain. Agar lebih mudah dipahami dan diakses oleh para pemustaka.
Jenis Kemas Ulang Informasi
Pelayanan kemas ulang informasi dapat digolongkan ke dalam tiga jenis. Penggolongan  berbeda  menurut  rangkaian  kesatuan  oleh  tingkat  nilai  tambah terhadap sumber informasi orisinal. Pada satu sisi, rangkaian itu adalah lokasi dan sarana akses. sedangkan disisi lain adalah dokumen-dokumen yang dikemas ulang dan pelayanan-pelayanan yang disesuaikan untuk memberi kemudahan dalam memenuhi  kebutuhan  pemustaka.  Widyawan  (2014,  75)  meyatakan  bahwa Diskusi penggolongan dan kaitannya adalah sebagai berikut :
1.      Lokasional dan Sarana Akses
Beberapa  pelayanan  kemas  ulang  memerlukan  rancangan  dan penetapan panduan yang memberikan kemudahan identifikasi dan penelusuran dokumen primer yang diminati pemustaka. Pemustaka yang menelusur tentang seuatu masalah perlu memindai literature secara luas ke  penjabaran masalah mereka  yang lebih  baik. Pustakawan yang mendukung pencarian dan pengumpulan informasi perlu membuat panduan untuk membantu pemustaka. Contoh panduan adalah pathfinders, daftar sumber, bibliografis, indeks, abstrak, dan database pesanan.
2.      Sumber Representasional dengan sarana akses dan lokasional yang mengidentifikasikan dan membantu dalam seleksi dan tempat sumber, sarana  representasional  merumuskan  kembali  dokumen  primer  ke dalam dokumen sekunder dan tertier. Dokumen primer digabung dan disajikan ulang ke dalam berbagai bentuk baru. Penggabungan dan penciptaan kembali didasarkan analisi isi dokumen primer dan sintesa mereka diberikan kepada pemustaka potensial. Contohnya adalah terjemahan, ulasan, laporan state of the art, buku panduan dan manual.
3.      Sumber Penafsiran dan Evaluasi Ini merupakan dokumen yang dipesan atau pelayanan untuk membantu pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasi yang ditafsirkan dalam konteks, sudut pandang, dan tujuan pemustaka.


Kemas Ulang Informasi Indeks Artikel
Produk atau bentuk kemas ulang yang ada pada Perpustakaan digital sangat membantu pustakawan dan  pengguna dalam menemukan informasi untuk pustakawan produk kemas ulang informasi sangat dibutuhkan agar pustakawan mampu memberikan informasi yang baik untuk pengguna dan produk kemas ulang sendiri mampu memenuhi kebutuhan informasinya. Kondisi seperti ini sering dihadapi oleh berbagai perpustakaan baik perpustakaan khusus, perpustakaan  riset, atau perpustakaan akademis (perpustakaan fakultas). Dalam dunia kepustakawanan, pekerjaan kemas ulang informasi merupakan kegiatan penting yang hampir ada di setiap Perpustakaan. Pustakawan mengemas ulang informasi guna menyesuaikan  kebutuhan informasi bagi pengguna.
 Informasi disesuaikan dengan subjek yang spesifik harus terkumpul dan dikemas menjadi suatu bentuk baru yang lebih menarik, tentu saja pustakawan memberikan  sumber-sumber informasi yang digunakannya dalam produk kemas ulang informasi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempermudah pemustaka mencari   sumber   yang   digunakan   agar   informasi   tersebut   relevan   dengan kebutuhan pengguna. Kemas ulang dilakukan agar dapat menyesuaikan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Sebab informasi yang ada di perpustakaan biasanya dalam berbagai format dan subyek yang beraneka ragam.
Indeks Artikel
Pengertian Indeks adalah istilah atau daftar kata yang penting dalam suatu buku yang tersusun berdasarkan abjad dimana istilah atau kata ini memiliki informasi mengenai halaman itu ditemukan. Atau dengan kata lain, indeks adalah suatu daftar kata atau bisa berupa frase dimana kata tersebut terkait dengan petunjuk pada bahan yang ditemukan didalam dokumen. Indeks berasal dari kata latin yang berarti menunjukkan tempat (indicare). Oleh karena itu, indeks ini memiliki fungsi yang penting dalam suatu buku karena bisa menunjukkan nomor halaman istilah yang kita cari disuatu buku.
Ciri-ciri indeks
Jenis lain dari indeks berdasarkan Pengertian Indeks adalah Indeks nama tempat dan organisasi. Tidak hanya nama diri ataupun istilah pada buku, jenis indeks juga bisa berupa organisasi. Adanya indeks bertujuan agar pembaca mudah mendapatkan informasi yang sedang dibaca dan memahami informasi yang lebih luas dan rinci saat membaca buku tertentu. Bagi anda yang masih bingung dengan indeks, indeks memiliki ciri-ciri seperti kata atau istilah yang disusun secara alphabet, biasanya halaman indeks tidak mencantumkan makna kata akan tetapi hanya menunjukkan letak atau halaman istilah yang ada pada buku, Jadi indeks bukanlah kamus kecil yang ada dibagian belakang buku.

Pembagian Jenis Indeks
Pada buku, Pengertian Indeks juga bisa dibedakan menjadi dua yaitu indeks subjek dan indeks pengarang. Indeks subjek bisa dikatakan sama dengan indeks istilah dimana didalamnya hanya mencantumkan istilah-istilah sedangkan indeks pengarang pengertiannya sama dengan indeks nama yang isinya tentang daftar nama pengarang atau tokoh dalam buku.
1. Indeks Nama “Pengarang” Merupakan susunan atau kumpulan nama-nama orang dalam sebuah indeks.
2. Indeks Topik “Subjek/Istilah” Merupakan kumpulan istilah atau subjek yang disusun berdasarkan abjad dimana istilah tersebut berada dalam buku atau bersangkutan dengan isi buku tersebut. Dalam sebuah buku geografi, indeks topik biasanya ialah istilah yang ada kaitannya dengan ilmu geografi.
3. Perincian Indeks Topik Merupakan subjek atau istilah yang ada kaitannya dengan subjek yang ada dalam sebuh indeks topik.
4. Nomor Halaman Merupakan bagian indeks buku yang bertuliskan nomor-nomor halaman dimana sebuah menunjukkan letak istilah tersebut.
Mengumpulkan Bahan Informasi Untuk melakukan kemas ulang informasi pada bahan pustaka seperti indeks artikel   hal  yang  pertama  kita  lakukan  adalah  mengumpulkan  bahan  pustaka semua bahan yang ingin di kemas harus   terkumpul terlebih dahulu agar memudahkan proses selanjutnya. mengumpulkan bahan-bahan untuk pengemasan bahan pustaka abstrak sama dengan mengumpulkan bahan pustaka bibiografi. Berikut pernyataan yang diberikan oleh informan I¹ sebagai berikut: ” Semuanya  sama  jadi bahan pustaka harus kita kumpulakan terlebih dahulu agar kita bisa melakukan kemas ulang. Informan Juga memberikan keterangan sebagai berikut:  sama dengan bahan pustaka yang lain. Sebelum melakukan pengemasan bahan pustaka  harus kita kumpulkan terlebi dahalu. Penjelasan yang diberikan oleh tidak jauh berbeda dengan informan. Intinya  setiap  bahan  pustaka  yang  ingin  kita  kemas  kita  harus mengumpulkan bahan pustaka tersebut. Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa untuk melakukan kemas ulang informasi pada bahan pustaka pada bahan pustaka yang ada pada Perpustakaan digital hal yang pertama dilakukan adalah  :
a)      mengumpulkan bahan yang ingin dikemas.
b)      Menentukan Topik Menentukan topik artinya mengindetifikasi kebutuhan informasi yang dibutuhkan pengguna dimana bahan pustaka yang sudah terkumpul kita pilah- pilah sesuai dengan topik yang dibutuhkan pengguna, Bila kebutuhan informasi pengguna telah diidentifikasi dengan baik maka pengemasan informasi akan tepat sasaran. Sesuai dengan kebijakan dalam menetapkan topik didasarkan pada beberapa hal yaitu pernyataan informan sebagai berikut: kita tentukan topik terlebih dahulu agar informasi yang ingin dikemas ulang tepat sasaran jadi kita tahu informasi seperti apa yang diinginkan pengguna. penjelasan yang diberikan: . Menentukan topik pada indeks dilakukan agar informasi yang dibutuhkan dan yang sudah terkumpul mudah ditelusur dan mudah untuk disatukan kembali. Sama dengan 
c)       Menentukan Ruang Lingkup
Menentukan ruang lingkup dengan kata kunci untuk digunakan saat penelusuran. Agar tidak terjadi perluasan istilah setelah menentukan topik. Dalam kata kunci mengandung istilah yang memiliki arti perluasan tentang pembahasan yang akan dikaji Istilah-istilah tersebut dapat dilihat pada Ensiklopedi suatu ilmu atau Thesaurus dan lain sebagainya. Selain itu dengan membaca sumber informasi yang berkenaan dengan topik yang dicari, membuat seseorang lebih familiar dan lebih mendalam pengetahuannya dengan topik tersebut.


Dampak Ekonomis Dari Kemas Ulang Informasi Indeks Artikel
Beberapa dampak ekonomis dari kegiatan kemas ulang informasi di antaranya adalah:
1.      Perpustakaan mampu menyediakan kemasan-kemasan informasi yang siap pakai yang dapat dijual kepada masyarakat/ pengguna dengan segmentasi yang telah ditentukan.
2.      Banjir informasi yang terus menerus apabila tidak ditangani oleh perpustakaan akan membawa dampak pada pembengkakan cost perawatan dan pengelolaan, sehingga apabila dibandingkan dengan biaya yang dihasilkan dari pemanfaatan informasi akan sangat tidak signifikan.  Dengan pengemasan informasi maka perpustakaan dapat menekan biaya (cost) bagi perawatan dan pengelolaan, sekaligus dapat memanfaatkan hasilnya sebagai bentuk layanan “penjualan informasi” di perpustakaan kepada pengguna yang membutuhkan.
3.      Bagi pengguna, adanya kemasan informasi ini akan memotong biaya dan juga waktu yang dibutuhkan oleh pengguna dalam mencari, memilih, dan memperoleh informasi yang dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan pengguna dengan mudah mendapatkan kemasan informasi yang siap pakai dan disediakan oleh perpustakaan secara mudah, cepat, tepat dan hemat waktu. Misalnya, untuk mendapatkan informasi tertentu di perpustakaan, pengguna cukup mengakses database perpustakaan melalui internet yang menyediakan berbagai koleksi digital hasil kemas informasi di berbagai bidang.
4.      Pengemasan informasi ini merupakan peluang komoditas bagi perpustakaan yang berpotensi sebagai bidang usaha informasi di perpustakaan yang akan mampu menghasilkan pemasukan. Hal ini tentunya akan membantu melepaskan image perpustakaan sebagai “cost institution” menjadi “benefit institution”. Artinya perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai lembaga yang hanya “menyedot” biaya dan punya ketergantungan terhadap biaya, menjadi perpustakaan yang mampu memberikan keuntungan dan membiayai kegiatannnya sendiri.








Contoh Indeks Artikel

Daftar indeks Artikel yang dilayankan





IV. KESIMPULAN
Kemas ulang informasi merupakan kegiatan jasa informasi yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesis, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna sehingga akan memberikan kemudahan dalam penyebaran dan temu kembali informasi. Kegiatan pengemasan informasi ini menghasilkan produk yang mengikuti perkembangan zaman karena kemasan dibuat dengan sengaja untuk mengatasi ledakan informasi khususnya di perpustakaan. Terkait dengan hal di atas, pustakawan memegang peran penting dalam keberhasilan kegiatan kemas ulang informasi.
Untuk menunjang keberhasilan tersebut, pustakawan harus mampu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait seperti kepala perpustakaan maupun infopreneur. Produk yang dihasilkan dari kegiatan ini akan memberi dampak kepada pengguna tergantung dari kreatifitas perencana, penyusun serta penyebaran/ promosinya. Keuntungan yang diperoleh dengan produk yang dihasilkan adalah “trade mark” dari produsennya atau penghasil kemasan maupun dari pengguna. Jika kedua hal tersebut berhasil, otomatis perpustakaan akan tetap eksis dan diminati oleh penggunanya.


DAFTAR REFERENSI
Kardi. (2009). Knowledge Management dan Kemas Ulang Informasi di Perpustakaan Perguruan Tinggi (Hambatan dan Peluang Perpustakaan Masa Depan). Pustakaloka, 13-24.
Anonim. 2012. Pengemasan Informasi : Sebuah usaha mendekatkan Sumber Informasi Pada Pengguna Perpustakaan. Surakarta: UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret.
Fitri Rahmawaati.2013,Pengemasan dan pelabelan.UPT Perpustakaan Universitas negeri Yogyakarta. Tersedia di : http://staffnew.uny.ac.id/upload/132296048/pengabdian/pengemasan-dan-pelabelan.pdf
Ismimawaddah.2015,Pengemasan informasiTersedia di : https://pengemasan-informasi.blogspot.com/
Prakash Dongardive.2013.Information Repackaging In Library services.Dapartment of Information Science,CNCS,Mekelle University,Ethiopia.
Stilwell, C. (1999)  Repackaging Information: a review. Tersedia di http://unp.ac.id/
Manfaat informasi-Pengertian, Fungsi,Jenis,Ciri dan contohnya Tersedia di : https://www.dosenpendidikan.co.id/manfaat-informasi/
Stephen Adeyemi Bello.Information needs Repackaging Dissemination : Sustainable Library services for national development.2019. Tersedia di https://ijalbs.com/index.php/ijalbs/article/view/56
Pengertian indeks : Jenis, Ciri dan Pembagian. Tersedia di https://rocketmanajemen.com/definisi-indeks/
Pembuatan indeks Kata Kunci Artikel Jurnal ilmiah di pdii-lipi(Pusat Dokumtasi dan informasi Ilmiah Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia) Tersedia di : https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/29064/Pembuatan-Indeks-Kata-Kunci-Artikel-Jurnal-Ilmiah-Di-Pdii-Lipi-Pusat-Dokumentasi-Dan-Informasi-Ilmiah-Lembaga-Ilmu-Pengetahuan-Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEMAS ULANG INFORMASI INDEKS ARTIKEL PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL

KEMAS ULANG INFORMASI INDEKS ARTIKEL PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL Palentina Togatorop 170709059 (Program Studi Perpustakaan dan Sains I...